Rabu, 26 April 2017

Teori Kecerdasan Ganda

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 11.33 0 komentar
Bismillah
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering: B

Teori Kecerdasan Ganda


Teori Kecerdasan Ganda (Multiple Intelligence) adalah teori yang dikemukakan oleh Howard Gardner, seorang ahli psikologi perkembangan dan guru besar di Harvard Unversity. Teori ini dikenalkan pada tahun 1993. Pengertian kecerdasan menurut Gardner adalah kemampuan yang dimiliki seseorang untuk memecahkan persoalan dan menghasilkan produk dalam suatu keadaan yang bermacam-macam dan dalam situasi yang nyata. Dalam penelitiannya, Gardner menemukan bahwa tidak ada kegiatan manusia yang hanya menggunakan 1 macam kecerdasan melainkan menggunakan seluruh kecerdasannya.Semua kecerdasan ini bekerja sama sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu. Ada 8 kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner yang dimiliki peserta didik, yaitu:
a. Kecerdasan linguistik
Kecerdasan linguistik adalah kemampuan untuk mengolah kata-kata dengan efektif baik secara oral maupun secara tertulis. Ciri-ciri anak yang mempunyai kecerdasan linguistik tinggi adalah lancar berbahasa, mudah mengembangkan pengetahuan berbahasa, dan mudah mempelajari beberapa macam bahasa.
b. Kecerdasan Logikal
Kemampuan yang berhubungan dengan penggunaan angka dan logika. Anak yang kecerdasan logikalnya dominan akan menyukai pelajaran matematika dan pelajaran yang berhubungan angka dan dapat dengan mudah melakukan tugas yang berhubungan dengan sistem yang abstrak.
c. Kecerdasan visual
Anak yang memiliki kecerdasan visual dominan akan memiliki kepekaan terhadap keseimbangan, relasi, warna, garis bentuk, dan ruang
d. Kecerdasan Kinestetik
Kecerdasan kinestetik tubuh adalah kecerdasan yang memungkinkan seorang memanipulasi objek dan cakap melakukan aktivitas fisik.
e. Kecerdasan Musikal
Kecerdasan musikal adalah kemampuan untuk mengembangkan, mengekspresikan suara dan musik. Anak yang memiliki kecerdasan musik dominan akan memiliki kepekaan tinggi terhadap ritme, melodi, dan intonasi. Anak tersebut juga memiliki kemampuan memainkan alat musik, kemampuan bernyanyi, menciptakan lagu, dan kemampuan menikmati musik.
f. Kecerdasan interpersonal
Kecerdasan ini berhubungan dengan kepekaan dan pengertian atas perasaan, motivasi, watak dan temperamen orang lain.
g. Kecerdasan intrapersonal
Kemampuan dalam membangun persepsi yang akurat tentang diri sendiri dan menggunakan kemampuan tersebut dalam membuat rencana dan mengarahkan orang lain. Anak yang memiliki kecerdasan intraprsonal menonjol biasanya berjiwa kepemimpinan karena dapat mengenal dirinya dan mampu mengarahkan orang lain.
h. Kecerdasan Naturalis
Kemampuan mengenali dan mengelompokkan spesies-flora dan fauna di lingkungannya.  Anak yang memiliki kecerdasan ini akan menggunakan kemampuan tersebut secara produktif dalam berburu, bertani, dan mengembangkan pengetahuan alam.
Kedelapan kecerdasan tersebut semua terdapat dalam diri masing-masng individu, tetapi kadarnya berbeda-beda. Beberapa orang memiliki kecerdasan yang lebih menonjol. Kecerdasan bukanlah sesuatu yang statis, tetapi dinamis dan dapat dikembangkan sehingga dapat berfungsi. Adanya kecerdasan pada anak dapat menjadi cara mudah bagi anak tersebut untuk belajar dengan kecerdasan yang menonjol dari dalam dirinya. Misalnya kecerdasan yang menonjol adalah musikal, maka ketika belajar anak tersebut akan sambil mendengarkan musik sehingga mereka menemukan sendiri cara yang asyik dalam belajar. Guru yang memiliki kecerdasan tersebut biasanya akan melakukan metode pembelajaran sesuai kecerdasan yang dia miliki.

Semoga bermanfaat
Adios ~

Minggu, 12 Maret 2017

Teori Revolusi Sosio-Kultural dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 09.31 0 komentar
Bismillah
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering: B

Teori Revolusi Sosio-Kultural dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori belajar Revolusi Sosio-Kultural dikembangkan oleh seorang psikolog yaitu Vygotsky. Vygotsky berpendapat bahwa interaksi anak dengan orang dewasa akan berpengaruh pada perkembangan keterampilan anak tersebut. Menurut Vygotsky pula, orang dewasa sensitif terhadap kesiapan anak untuk menghadapi tantangan baru, dan mereka menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru.

Dalam teori ini, orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru yang mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development – istilah Vygotsky untuk rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak tanpa bantuan orang dewasa. Contoh orang tua mengajarkan konsep angka sederhana misalnya menghitung dengan menggunakan lidi. Saat anak berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang tua, guru, dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan nilai kebudayaan.

Ada tiga konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu
1. Genetic Law of Development
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental. Intermental adalah faktor primer yang merupakan pengaruh dari lingkungan belajar anak. Sedangkan yang dimaksud intramental adalah hasil dari interaksi anak terhadap lingkungan. Dengan kata lain intramental adalah penguasaan anak terhadap proses-proses sosial yang dilakukannya.

2. Zone of Proximal dDvelopment
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam proses pematangan. Dalam hal ini, anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk dapat mengembangkan kemampuannya. Vygotsky membagi perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) ke dalam dua tingkat:
a) Tingkat perkembangan aktual, yaitu perkembangan yang tampak pada seseorang dalam menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah secara mandiri (intermental)
b) Tingkat perkembangan potensial, yaitu perkembangan yang tampak pada seseorang dalam menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika bekerja sama dengan teman sebaya yang kompeten

3. Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda tersebut adalah produk dari lingkungan sosio-kultural tempat seseorang berada. Semua proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychological tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika. Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik ini. Ada dua jenis mediasi, yaitu Mediasi

a) Metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self-regulation atau regulasi diri, meliputi self-planning,self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating.
b) Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subjeck-domain proble.

Aplikasi dalam pembelajaran
Aplikasi teori ini dapat dibagi menjadi pendidikan informal, non-formal, dan formal. Contoh aplikasi dalam pendidikan informal adalah pendidikan keluarga. Ketika di rumah, orang tua mengawasi anak dan mengajarkan hal-hal baru pada anak. Interaksi orang tua dengan anak tersebut akan mengembangkan keterampilan anak.. Aplikasi dalam pendidikan non-formal misalnya pada saat les menari atau keterampilan lainnya (membuat gerabah, membatik). Siswa berinteraksi dengan gurunya yang memiliki keahlian dalam bidang keterampilan tersebut dan akhirmya siswa itu dapat mempelajari keterampilan tersebut dengan baik dan mengembangkannya. Aplikasi dalam pendidikan formal adalah ketika di sekolah ada interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Semoga bermanfaat :)
Adios ~

Refleksi 9: Teori Sibernetik

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 08.53 0 komentar
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 9

Cybernetik adalah sistem kontrol dan komunikasi. Menurut teori sibernetik, Pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran berupa hasil pembelajaran. Menurut PAsk dan Scott, ada dua macam cara berpikir yaitu cara berpikir serialis dan cara berpikir wholist. Cara berpikir serialis sama seperti cara berpikir algoritmik yaitu proses berpikir yang sistematik, tahap demi tahap, dan lurus menuju tujuan tertentu, sedangkan cara berpikir wholist sama seperti cara berpikir heuristik yaitu roses berpikir yang menuju ke beberapa target sekaligus. Cara berpikir ini menuntut penggunaan kemampuan berpikir kreatif, meliputi kelancaran, kelenturan, orisionalitas, dan elaborasi dan kolaborasi. Ada beberapa kondisi yang mempengaruhi proses pengolahan informasi antara lain adalah:
1) Kemampuan alam, kemampuan alami siswa dalam mengolah informasi
2) Motivasi, adanya  dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.
3) Perhatian, bantuan dan perhatian dari orang sekitar baik guru, orang tua maupun teman sebayanya dapat membantu siswa dalam mengolah informasi
4) Presepsi, presepsi awal tentang materi yang diajarkan juga mempengaruhi proses pengolahan informasi
5) Retensi, yaitu materi yang tertinggal dan mampu diingat kembali
6) Transfer, cara penyampaian materi (transfer ilmu) dari pendidik mempengaruhi
Aplikasinya dalam pembelajaran adalah menentukan tujuan pembelajaran, menentukan materi pembelajaran, dan mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi. Kelebihan teori sibernetik adalah cara berpikir lebih menonjol (proses lebih utama daripada hasil) dan adanya keterarahan kegiatan belajar. Kelemahan teori belajar sibernetik adalah kurang memperhatikan proses belajar.
Adios ~

Rabu, 01 Maret 2017

Teori Sibernetik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 10.00 0 komentar
Bismillah.
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B

Teori Sibernetik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori belajar sibernetik adalah teori belajar yang berbasis informasi dan teknologi. Teori belajar ini relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Proses belajar penting dalam teori sibernetik, tetapi yang lebih penting adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa.Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik, namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Asumsi lain dari teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu proses belajar yang ideal untuk segala situasi dan cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar ditentukan oleh cara penyampaian materi. Suatu materi yang sama mungkin akan dipelajari siswa melalui proses belajar yang berbeda.

Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), kemudian penyimpanan informasi (storage), dan terakhir adalah mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan (retrieval). Menurut teori Gagne, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capabilities) yang terdiri atas:
a) Informasi verbal, merupakan hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal baik secara tertulis atau secara lisan.
b) Kecakapan intelektual, merupakan kemampuan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan dengan menggunakan simbol-simbol. Kecakapan ini sangat diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.
c) Strategi kognitif, merupakan kemampuan individu untuk mengelola keseluruhan aktivitasnya. Srategi ini mengarah pada kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berpikir agar terjadi aktifitas yang efektif.
d) Sikap, merupakan hasil pembelajaran yang berupa kemampuan individu untuk memilih tindakan yang akan dilakukan.
e) Kecakapan motorik, merupakan hasil pembelajaran berupa kemampuan gerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori Belajar Sibernetik (Menurut Landa)
Salah satu penganut aliran sibernetik adalah Landa. Ia membedakan ada dua macam proses berpikir , yaitu:
1) Algoritmik (konvergen), merupakan proses berpikir yang sistematik, tahap demi tahap, dan lurus menuju tujuan tertentu. Proses berpikir ini deisebut juga cara berpikir konvergen yang tujuannya adalah mencari satu jawaban yang benar. Contoh: prosedur penggunaan suatu alat
2) Heuristik (divergen), merupakan proses berpikir yang menuju ke beberapa target sekaligus. Berpikir divergen sebagai operasi mental menuntut penggunaan kemampuan berpikir kreatif, meliputi kelancaran, kelenturan, orisionalitas, dan elaborasi dan kolaborasi.

Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur, linier, sekuensial. Maksudnya materi ini hanya memiliki satu jawaban yang tepat. Di samping itu, materi pelajaran lainnya akan lebih tepat bila disajikan. dalam bentuk ”terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir kreatif.

Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan Pembelajaran

Dalam pembelajaran sibernetik harus ada umpan balik dari siswa kepada gurunya. Dengan adanya umpan balik tersebut, guru akan tahu apakah materi yang disampaikan kepada siswanya telah dipahami atau belum. Guru juga dapat mengetahui kesulitan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Selain siswa, guru juga harus memberikan feedback berupa nilai dari hasil belajar siswa tersebut. Selanjutnya siswa akan mengintrospeksi diri dan menentukan tindakan yang akan dilakukan apabila hasil yang diperoleh kurang memuaskan
Dalam kaitannya pembelajaran di ruang kelas, Gagne mengemukakan ada sembilan langkah pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, antara lain:
1. Melakukan tindakan yang menarik minat siswa
2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran dan topik-topik yang akan dibahas
3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran
4. Menyampaikan isi pelajaran yang dibahas sesuai dengan topik yang telah ditetapkan.
5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.
7. Memberikan umpan balik terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa
8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil pembelajaran

Semoga bermanfaat
Adios ~ :)

Refleksi 8: Teori Humanistik, Penerapannya dalam Pembelajaran, dan Self Efficacy

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 09.57 0 komentar
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 8

Teori humanistik adalah teori yang menyatakan bahwa dalam setiap diri manusia memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap. Ada beberapa tokoh yang menyatakan teori ini yaitu Arthur Comb, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Menurut Arthur, guru tidak dapat memaksakan siswa untuk menyukai suatu pelajaran tertentu. Siswa akan tidak menyukai suatu pelajaran apabila dirasa tidak bermanfaat baginya. Siswa akan lebih menyukai pelajaran yang memberikan arti baginya. Menurut Maslow, Di dalam diri individu ada dua hal yaitu usaha positif untuk berkembang dan kekuatan untuk menolak perubahan itu. Dalam diri seseorang terdapat rasa takut untuk bersaing dan rasa takut untuk mengambi kesempatan. Akan tetapi bersamaan dengan peraaan itu, ada juga keinginan untuk maju. Hal yang terjadi selanjutnya adalah bergantung pada cara individu tersebut mengambil tindakan. Menurut pandangan Rogers, manusia pada dasarnya baik dan penuh kepositifan. Teori Rogers diterapkan pada Sistem Bimbingan Konseling di sekolah. Beliau menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.

Teori ini berkaitan dengan self efficacy (Teori Bandura) yang merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya dapat menyelesaikan suatu tugas dalam situasi tertentu. Self efficacy ditumbuhkan dari diri masing-masing individu. Ada anak yang memiliki self efficacy tinggi. Anak yang seperti ini akan mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru sesulit apapun tingkat kesulitan soal tersebut. Dia akan terus berusaha karena yakin bahwa tugas tersebut bisa selesai. Akan tetapi anak yang self efficacy nya rendah akan menganggap tugas tersebut sulit dan tidak bisa dikerjakan. Dia akan menyerah bahkan ketika belum mencoba. Akhirnya dia tidak mengerjakan tugas tersebut. Fase yang menentukan self efficacy adalah dimulai dari keluarga. Lingkungan juga mempengaruhi self efficacy. Lingkungan yang responsif akan membuat anak yang memiliki self efficacy tinggi menjadi sukses dan dapat menyelesaikan soal sesuai kemampuannya. Dalam diri kita, perlu ditumbuhkan self efficacy yang tinggi. Kita harus yakin bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Oleh karena itu, jangan lelah berusaha dan berdoa.

Semangat :D
Adios ~

Minggu, 26 Februari 2017

Teori Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 23.04 0 komentar
Bismillah.
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering: B

Teori Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap. Teori Humanisme melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatannya melihat kejadian yaitu cara manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Teori Humanistik menyatakan bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri dapat tercapai secara optimal. Teori humanisme cocok diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar secara perlahan ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tokoh-tokoh Teori Humanistik

1. Arthur Comb
Perilaku internal mempengaruhi sifat seseorang dan membuatnya berbeda dengan orang lain. Menurut Arthur Combs, belajar terjadi apabila memberikan arti pada pelajar. Seorang guru tidak dapat memaksa muridnya untuk menyukai suatu materi pelajaran. Banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila materi pelajaran disusun dan disajikan sebagaimana mestinya, meskipun tidak ada arti yang menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting adalah cara membawa peserta didik untuk memperoleh arti pelajaran itu untuk dirinya dan menghubungkannya dengan kehidupan.

2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu usaha positif untuk berkembang dan kekuatan untuk menolak perubahan itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berkembang, takut mengambil kesempatan, takut membahayakan sesuatu yang telah dimilikinya. Akan tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah yang lebih maju. Ke arah berfungsinya segala kemampuan dan ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar.

3. Carl Ransom Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Teori Rogers disebut humanis karena teori ini percaya bahwa setiap individu adalah positif, serta menolak teori Freud dan behaviorisme. Menurut pandangan Rogers, manusia pada dasarnya baik dan penuh kepositifan. Menurut Carl Rogers ada beberapa hal yang mempengaruhi Self, yaitu :
üKesadaran
üKebutuhan Pemeliharaan
üPeningkatan diri
üPenghargaan positif (positive regard)
üPenghargaan diri yang positif (positive self-regard)

Aplikasi terhadap Pembelajaran
Peran guru dalam pembelajaran menjadi fasilitator, memberikan motivasi, dan menumbuhkan kesadaran makna belajar bagi kehidupan pada para siswa. Peran siswa adalahaku utama yang memaknai proses belajarnya. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat pendapat orang lain, bertanggug jawab dalam mengatur dirinya tanpa melanggar hak orang lain, aturan, norma dan etika yang berlaku. Teori humanistik cocok digunakan untuk materi pembelajaran yang bersifat membentuk pribadi, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis kejadian sosial

Self Efficacy
Menurut Albert Bandura,  Self Efficacy adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Seseorang dengan efikasi diri tinggi percaya bahwa mereka mampu melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian-kejadian di sekitarnya, sedangkan seseorang dengan efikasi diri rendah menganggap dirinya pada dasarnya tidak mampu mengerjakan segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Semoga bermanfaat
Adios ~ :)

Refleksi 7: REVIEW MATERI BELAJAR

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 22.55 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering: B
Mata Kuliah: Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 7

Pada perkuliahan hari ini, kegiatan kami adalah review mengenai tiga teori belajar yang telah dipelajari. Cara untuk menyimpulkan pembelajaran yang baik adalah dengan menambahkan pendalaman materi, meluruskan jawaban pertanyaan selama diskusi yang berlangsung saat pembelajaran, mengambil hal-hal penting terkait materi yang diajarkan kemudian dikaitkan dengan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Asimilasi terdapat pada teori belajar kognitif. Asimilasi adalah menggabungkan sesuatu yang lama dengan hal yang baru, sehingga menghasilkan sesuatu yang baru. Pada orang dewasa sulit dalam melakukan asimilasi karena orang dewasa lebih mempercayai hal yang pernah dialaminya dan sulit menerima sesuatu yang baru.

Lalu, kami membahas tentang perbedaan hadiah dan penghargaan. Hadiah adalah hal yang diberikan secara cuma-cuma, tidak harus dari usaha dan tidak harus berkaitan dengan pembelajaran. Sedangkan penghargaan adalah sesuatu yang diberikan sebagai hasil dari proses belajar. Perbedaan pandangan Piaget dan Vigotsky adalah bahwa Vigotsky lebih mengedepankan komunikasi atau ilmu sosial. Piaget menyatakan bahwa perkembangan mental sejalan dengan perkembangan fisik. Belajar secara kooperatif adalah penerapan teori Piaget. Lalu dibahas sedikit tentang self efficacy yang merupakan keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu.

Adios ~

Refleksi 6: Teori Konstruktivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 22.29 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 6

Teori konstruktivisme lebih menekankan pada cara peserta didik membangun ilmu pengetahuannya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak didapatkan secara instan, tetapi melalui tahapan-tahapan. Beberapa masalah diberikan kepada para siswa, kemudian siswa tersebut akan berusaha memecahkan masalah tersebut. Dari situlah pengetahuan didapat secara perlahan. Setelah pengetahuan tersebut terkumpul, siswa akan mulai berpikir dan menyusun ilmu pengetahuannya menjadi sesuatu yang kompleks. Semua pengetahuan yang diperoleh manusia tidak secara serta merta langsung didapatkan, tetapi secara bertahap. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.

Dengan menerapkan teori belajar seperti ini, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran akan semakin baik dan lebih lama mengingat. Apapun yang dipelajari melalui pengalaman akan diingat lebih lama. Begitu pula dengan penerapan teori ini. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dari ketiga teori belajar yang telah saya pelajari, saya lebih menyukai teori belajar ini karena tidak membatasi inovasi dan kreativitas peserta didik untuk mengumpulkan pengetahuan baru.

Setelah diskusi tentang teori Kontruktivisme, ditengah presentasi, kami mengerjakan ujian pre-test yang seharusnya dikerjakan pada awal masuk perkuliahan. Soal tersebut berisi tentang permasalahan dalam Belajar dan pembelajaran dari materi ang telah dipelajari, sampai yang belum sama sekali (contih tentang self efficacy). saya mengerjakan ujian itu sebisa saya, karena ujian ini bertujuan untuk mengukur perkembangan belajar dari awal semester hingga akhir semester. Model tes seperti ini bisa saya terapkan juga jika saya menjadi guru nanti. Soalnya berbentuk multiple choice, tetapi isinya berbobot yaitu lebih banyak berupa menganalisis suatu masalah.

Adios ~

Minggu, 19 Februari 2017

Teori Konstruktivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 19.08 0 komentar
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B

Teori Konstruktivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Pengertian dari konstruksi adalah bersifat pembangun. Dalam konteks filsafat pendidikan konstruksi diartikan sebagai suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern. Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pembelajaran konstektual yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit. Maksudnya adalah semua pengetahuan yang diperoleh manusia tidak secara serta merta langsung didapatkan, tetapi secara bertahap. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.

Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dengan teori konstruktivisme siswa dapat berfikir untuk menyelesaikan masalah, mencari ide dan membuat keputusan. Peserta didik akan lebih paham karena mereka terlibat langsung dalam membina pengetahuan baru, mereka akan lebih paham dan mampu mengapliklasikannya dalam semua situasi. Selain itu siswa terlibat secara langsung dengan aktif, mereka akan ingat lebih lama semua konsep karena materi yang diperoleh akan tersimpan di memori jangka panjang.

Kelebihan dan kekurangan Teori Konstruktivisme adalah sebagai berikut
Kelebihan:
1. Materi mudah diingat karena diperoleh melalui pengalaman langsung dan dapat mengembangkan pengetahuannya sendiri
2. Peserta didik dapat dilatih bersosialisasi dengan baik pada guru dan teman-temannya saat pembelajaran
3. Melatih peserta didik untuk berpikir dan mendapat ilmu sedikit demi sedikit

Kekurangan:
1. Kemampuan masing-masing guru berbeda dalam mengajar, sehingga tidak semua guru dapat melaksanakan metode ini dengan baik
2. Perhatian guru yang tidak merata kepada semua murid, sehingga ada beberapa murid yang pemahamannya terbatas

Piaget yang dikenal sebagai konstruktivis pertama menegaskan bahwa pengetahuan tersebut dibangun dalam pikiran anak melalui asimilasi dan akomodasi. Piaget menyebut ini sebagai teori Perkembangan Mental. Asimilasi adalah penyerapan informasi baru dalam pikiran. Sedangkan, akomodasi adalah menyusun kembali struktur pikiran karena adanya informasi baru, sehingga informasi tersebut mempunyai tempat. Pengertian tentang akomodasi yang lain adalah proses mental yang meliputi pembentukan skema baru yang cocok dengan ransangan baru atau memodifikasi skema yang sudah ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Konstruktivis ini dikritik oleh Vygotsky, yang menyatakan bahwa siswa dalam mengkonstruksi suatu konsep perlu memperhatikan lingkungan sosial. Konstruktivisme ini oleh Vygotsky disebut konstruktivisme sosial. Penerapan konstruktivisme sosial adalah siswa berinteraksi dengan guru, dengan siswa lainnya dan berdasarkan pada pengalaman informal siswa mengembangkan strategi-strategi untuk merespon masalah yang diberikan.
Semoga bermanfaat :)
Adios ~

Refleksi 5: Teori Kognitivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 19.02 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 5


Teori kognitivisme tidak hanya mengamati perubahan tingkah laku, tetapi juga mengamati perubahan mental atau kejiwaan. Prinsip teori kognitif adalah peserta didik aktif dalam kegiatan belajar mengajar, kemudian memperoleh pemahaman dari yang diketahui, dan memahami dari rekaman berupa sesuatu yang dilihat dan didengar adalah sumber pengetahuan. Setelah mendapatkan ilmu tersebut, maka peserta didik tidak hanya perubahan perilaku, tetapi perubahan mental. Teori ini memperhatikan perubahan mental anak, tidak seperti teori behavioristik yang hanya memperhatikan perubaha secara fisik dan tingkah laku (segala sesuatu yang terlihat langsung).

Beberapa kelebihan dari teori kognitivisme adalah siswa jadi kreatif dan mandiri dan lebih maksimal dalam mengembangkan kemampuan siswa. Dengan menerapkan teori belajar kognitivisme, siswa mampu mencari sendiri pengetahuannya. Kekurangan dari teori ini adalah menganggap kemampuan peserta didik itu sama, padahal kemampuan siswa dalam menangkap pelajaran tidak selalu sama. Apabila guru tidak memberi arahan, siswa akan bingung dan kesulitan dalam mencari materi yang akan dipelajari.

Dalam teori kognitivisme, belajar dengan cara menghafal dianggap tidak efektif. Belajar yang efektif adalah belajar yang bermakna. Maksudnya adalah siswa tidak hanya menghafal materi pembelajaran, tetapi dapat memahami aplikasinya dalam kehidupan nyata. Teori kognitivisme juga dapat melatih sosialisasi siswa dengan teman-temannya yang dilakukan saat kegiatan diskusi.

Setelah mempelajari banyak tentang teori kognitivisme, saya mengerti bahwa teori ini tidak hanya bisa saya terapkan ketika kelak saya menjadi pendidik, tetapi saya bisa menerapkannya sekarang sebagai mahasiswa, selaku peserta didik. Bahwa belajar itu bukan menghafal, tetapi harus bermakna.

Adios ~

Jumat, 10 Februari 2017

Teori Kognitivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 23.04 0 komentar
Bismillah ~
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B

Teori Kognitivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori kognitif ini memiliki perspektif bahwa para peserta didik memproses informasi dan pelajaran melalui upayanya mengorganisasi, menyimpan, dan kemudian menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang telah ada. Model ini menekankan pada cara informasi diproses. Teori belajar ini menggambarkan adanya perkembangan pola pikir peserta didik dari yang kurang tahu menjadi lebih tahu. Peserta didik memproses pengetahuan yang baru diperolehnya lalu membandingkannya dengan pengetahuan lamanya.

Teori belajar ini disebut juga dengan teori Piaget. Piaget berpendapat bahwa pengetahuan dibentuk oleh individu karena individu melakukan interaksi terus menerus dengan lingkungan. Lingkungan tersebut terus mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang. Pengetahuan dibangun dalam pikiran. Setiap individu membangun sendiri pengetahuannya. Pengetahuan yang dibangun terdiri dari tiga bentuk yaitu pengetahuan fisik, pengetahuan logika-matematik, dan pengetahuan sosial (Dimyati, 2013). Pendekatan kognitif menekankan pada proses pemikiran dalam pembelajaran atau disebut juga perkembangan mental peserta didik. Pengetahuan yang diterima diproses melalui pemilihan, perbandingan dan penggabungan dengan pengetahuan lain yang ada dalam ingatan. Penggabungan pengetahuan ini kemudian akan diubah dan disusun .

Hasil pemikiran bergantung pada proses perkembangan mental tersebut. Ahli-ahli psikologi kognitif menekankan bahwa manusia bukanlah penerima rangsangan-rangsangan yang pasif, akan tetapi otak manusia akan memproses secara aktif pengetahuan yang diterima dan menukarkan pengetahuan kepada bentuk atau kategori baru yaitu hasil penggabungan pengetahuan lama dan pengetahuan baru. Menurut teori ini, belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Ada tiga proses dalam teori kognisi agar mendapat pemahaman yaitu asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium (penyeimbangan).

a) Asimilasi
Asimilasi melibatkan penggabungan pengetahuan baru dengan struktur pengetahuan lama. Jadi pada tahap asimilasi ini, peserta didik sudah memiliki bekal pengetahuan sebelum melakukan proses belajar. Pengetahuan diperoleh dari belajar mandiri, misalnya setelah membaca buku tentang materi yang akan diajarkan. Lalu setelah kegiatan pembelajaran oleh pendidik, peserta didik tersebut membandingkan dengan pengetahuan lama yang sudah diperolehnya, akhirnya memperoleh pemahaman yang lebih baik. Secara teoritis, asimilasi tidak menghasilkan perubahan skema, tetapi asimilasi mempengaruhi pertumbuhan skema. Jadi, asimilasi merupakan proses kognitif
b) Akomodasi
Akomodasi berarti perubahan struktur pengetahuan yang sudah ada sebelumnya untuk mengakomodasi hadirnya informasi baru. Pada tahap ini peserta didik memperoleh pemahaman yang benar dari materi yang dipelajari. Akomodasi dapat diartikan sebagai penciptaan skema baru atau pengubahan skema lama. Asimilasi dan akomodasi terjadi sama-sama saling mengisi pada setiap individu yang menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Proses ini perlu untuk pertumbuhan dan perkembangan kognitif. Antara asimilasi dan akomodasi harus ada keserasian dan disebut oleh Piaget adalah keseimbangan.
c)  Ekuilibrium
Ekuilibrium adalah tahap penyeimbangan antara tahap asimilasi dan akomodasi. Proses ekuilibrasi menunjukkan adanya peningkatan ke arah pemikiran yang lebih kompleks.

Tokoh-tokoh Aliran Kognitif

1. Teori Perkembangan Piaget
Menurut Piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetik, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan, akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-peribahan kualitatif di dalam struktur kognitifnya. Perkembangan pemikiran didefinisikan secara kualitatif. Tiga tahapan belajar menurut Piaget adalah asimilasi, akomodasi, dan ekuilibrium.
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta didik hendaknya diberi kesempatan untuk mencari pengetahuan dengan caranya sendiri. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan. Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Piaget:
1. Mentukan tujuan pembelajaran
2. Memilih materi
3. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara aktif
4. Menentukan kegiatan belajar yang sesuai untuk topik-topik tersebut, misalnya penelitian, memecahkan masalah, diskusi, dan sebagainya.
5. Mengembangkan metode pembelajaran untuk merangsang cara berpikir siswa.
6. Melakukan nilai proses dan hasil belajar


2. Teori belajar menurut Bruner
Dengan teorinya yang disebut free discovery learning, ia mengatakan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam kehidupannya. Jadi ilmu yang akan dipelajari peserta didik adalah segala sesuatu yang ada di lingkungan dan guru memberi kesepatan peserta didik untuk mengeksplorasi pengetahuan sebanyak-banyaknya dari lingkungan.
Ada tiga tahap perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Bruner, yaitu enaktif, ikonik, dan simbolik. Tahap enaktif, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upayanya untuk memahami lingkungan sekitarnya menggunakan respon motorik. Tahap ikonik, seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Tahap simbolik, seseorang telah mampu memiliki ide-ide atau gagasangagasan abstrak. Langkah-langkah Pembelajaran menurut Bruner
1. Menentukan tujuan pembelajaran
2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal,minat,gaya belajar dan sebagainya)
3. Memiliki materi pelajaran.
4. Menentukan topik-topik yang dapat dipelajari siswa secara induktif
5. Mengembangkan bahan-bahan belajar
6. Mengatur topik-topik pelajaran dari yang sederhana ke kompleks, dari yang konkrit, atau dari tahap enaktif, ikonik sampai ke simbolik
7. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

3. Teori Belajar Bermakna Ausubel
Ausubel menyatakan bahwa menghafal berbeda dengan bermakna. Artinya sesuatu yang dihafal akan mudah lupa karena seseorang tidak memiliki makna akan sesuatu yang dihafalkan tersebut. Hafalan seseorang berada dalam short term memory (memory jangka pendek). Ausubel menggunakan istilah “pengatur lanjut” (advance organizers), merupakan penerapan konsep tentang struktur kognitif dalam pembelajaran. Penggunaan advance organizers sebagai kerangka isi akan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam mempelajari informasi baru, karena merupakan  ringkasan konsep-konsep dasar tentang apa yang dipelajari, dan hubungannya dengan materi yang telah ada dalam stuktur kognitif siswa. Advance organizers akan memudahkan siswa mempelajari materi pelajaran yang baru, serta hubungannya dengan materi yang telah dipelajarinya.
Langkah-langkah Pembelajaran Menurut Ausubel
1. Menentukan tujuan pembelajaran
2. Melakukan identifikasi karakteristik siswa ( kemampuan awal, motifasi, gaya belajar dan sebagainya)
3. Memiliki materi pelajaran sesuai dengan karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.
4. Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk ad-vance organizer yang akan dipelajari siswa.
5. Mempelajari konsep-konsep inti tersebut, dan menerapkannya dalam bentuk nyata
6. Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.

Kognitivisme berbeda dengan behaviorisme. Dalam kognitivisme perkembangan mental (proses berpikir) diperhatikan juga, tidak hanya perubahan perilaku yang tampak di luar. Itulah beberapa materi tentang materi Kognitivisme. Semoga bermanfaat :)
Adios ~

Refleksi 4: Teori Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 21.02 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering: B
Mata Kuliah: Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 4
Pertemuan kali ini, kami berdiskusi tentang teori behavioristik. Teori Behavioristik adalah teori belajar yang melibatkan perubahan perilaku peserta didik setelah mengalami proses belajar. Menurut teori ini, peserta didik dikatakan sudah belajar apabila mengalami perubahan tingkah laku yang terlihat secara fisik. Perubahan mental eserta didik tidak dianggap penting karena tidak dapat diamati dari luar. Misalnya, ada anak SD belajar perkalian tetapi dia tidak mahir dalam perkalian (nilainya jelek ketika mengerjakan tugas atau ujian), maka anak tersebut dianggap belum belajar. Padahal mungkin anak tersebut mengalami perubahan mental seperti proses mencerna dan berpikir tentang materi perkalian tersebut. Proses berpikir anak berbeda-beda, ada yang cepat ada juga yang membutuhkan waktu cukup lama. Akan tetapi, teori behavioristik tidak menganggap penting perubahan mental ini. Dalam pembelajaran ada pemrosesan informasi dalam kognitif yang meliputi penerimaan, pemrosesan, penyimpanan, dan respon.

Bapak Hadi juga menambahkan bahwa belajar tidak hanya menghafal, tetapi belajar adalah membangun cara berpikir. Adanya tipe soal C1 sampai C6 bukanlah menunjukkan level kesulitan, tetapi yipe soal tersebut menunjukkan kompleks berpikir siswa. Semakin tinggi tipe soal, maka analisis dalam soal tersebut semakin kompleks. Cara belajar yang benar bukan menghafal tetapi menganalisis konsep yang sebelumnya pernah dihafal. Sehingga materi tersimpan di long term memory dan akan ingat sampai kapanpun. Memori jangka pendek dan memori jangka panjang keduanya berperan dalam proses belajar. Memori jangka pendek dapat diolah menjadi memori jangka panjang dengan cara menganalisis konsep yang pernah diberikan. Ingatan yang tersimpan dalam memori jangka pendek akan mudah terlupakan, sehingga harus dibuat menjadi memori jangka panjang dengan memahami konsep. Pendidikan anak tingkat bawah harus menanamkan attitude, sedangkan untuk yang tingkat tinggi harus menanmakan kompleks berpikir. Setelah medapatkan perkuliahan ini saya jadi mengetahui cara belajar yang benar. Perkuliahan ini tidak hanya memberi wawasan untuk menjadi pendidik yang baik, tetapi juga mengajarkan untuk menjadi peserta didik yang bertanggungjawab dalam menuntut ilmu.

Adios ~

Refleksi Perkuliahan 3: Hakikat Belajar dan Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 20.41 0 komentar
Pada perkuliahan ini, kami berdiskusi tentang hakikat belajar dan pembelajaran. Belajar adalah sebuah kegiatan untuk memberikan perubahan tingkah laku yang lebih baik. Dalam belajar ada perubahan secara sadar dan fungsional. Pembelajaran atau pendidikan merupakan proses interaksi yang mendorong terjadinya belajar. Proses belajar tersebut terjadi karena siswa memperoleh sesuatu yang ada di lingkungan sekitar. Jadi seseorang melakukan kegiatan belajar jika diawali dengan adanya pembelajaran. Pembelajaran itu bisa dari guru di sekolah dan dari lingungan tempat seseorang itu tinggal. Bila siswa belajar, maka akan terjadi perubahan mental pada diri siswa. Setelah proses belajar dan pembelajaran selesai maka siswa akan memperoleh hasil belajar. Ciri-ciri pembelajaran antara lain terdapat proses belajar, ada materi yang diajarkan, ada guru sebagai fasilitator, dan ada evaluasi untuk mengukur kemampuan. Ciri-ciri belajar adalah adanya perubahan mental pada siswa. Selain perubahan mental, ada juga perubahan tingkah laku siswa. Hal tersebut menandakan siswa menerima pengetahuan sebagai hasil belajar.

Pada diskusi kali ini saya menyampaikan pendapat saya tentang teori deskriptif dan teori preskriptif. Kedua teori ini berkaitan dengan belajar dan pembelajaran. Teori deskriptif adalah teori belajar itu sendiri, yaitu teori yang lebih menekankan cara peserta didik untuk mendapatkan hasil belajar. Dalam kasus sehari-hari misalnya peserta didik akan menghadapi ujian. Dia akan belajar dengan caranya sendiri di rumah agar mendapatkan nilai yang baik untuk ujiannya. Dalam teori ini yang terpenting adalah hasil yang dicapai peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar. Kelemahan dari teori ini adalah tidak memperhatikan psikologis peserta didik karena cara belajar masing-masing anak itu berbeda. Akan tetapi, kelebihan dari teori deskriptif adalah dapat mengembangkan kreativitas dan inovasi peserta didik karena mereka mencari sendiri bahan belajarnya

Kemudian ada teori preskriptif yang merupakan teori pembelajaran. Dalam teori ini harus ada desain pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran yang optimal. Tujuan teori preskriptif adalah untuk menentukan metode pembelajaran yang optimal. Kelemahan dari teori perskriptif waktu yang dibutuhkan lama, karena dalam pembelajaran terstruktur dan sistematik untuk mencapai tujuan tertentu. Perskriptif membatasi kreativitas anak, hanya menghasilkan hasil belajar kognitif tapi perkembangan mental tidak berkembang. Peserta didik selalu menunggu penjelasan dari guru dan tidak bisa mencari materi sendiri.

Walaupun teori deskriptif dan perspektif memiliki kelemahan dan kelebihan masing-masing, tetapi kedua teori tersebut tidak dapat dipisahkan. Kelemahan dan kelebihan tersebut saling melengkapi sehingga tercapai hasil belajar yang optimal bagi peserta didik dan merupakan keberhasilan bagi dunia pendidikan. Dalam pendidikan seharusnya tidak hanya menekankan teori deskriptif saja atau teori perskriptif saja. Keduanya harus seimbang agar tujuan pembelajaran tercapai. Menurut saya, materi diskusi kali ini lebih mudah dipahami dan sangat menarik karena dapat memberikan gambaran tentang cara menjadi pendidik yang baik untuk anak Indonesia kelak.

Adios ~

Minggu, 05 Februari 2017

Teori Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 22.33 0 komentar
Bismillah ~
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering: B

Teori Behavioristik dan Penerapannya dalam Pembelajaran
Teori Behavioristik adalah teori belajar yang melibatkan perubahan perilaku peserta didik setelah mengalami proses belajar. Teori ini menjelaskan bahwa belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur, dan dinilai secara konkret. Jadi, hasil belajar peserta didik dapat dilihat dari perubahan perilakunya setelah belajar. Berikut ini adalah prinsip-prinsip belajar teori behavioristik:
1) Reinforcement and Punishment (Penguatan stimulus dan hukum)
2) Primary and Secondary Reinforcement
3) Schedules of Reinforcement (Rancangan Penguatan)
4) Contingency Management
5) Stimulus Control in Operant Learning
6) The Elimination of Responses (Penghilangan respon)
Contoh penerapan teori behavioristik apabila ada anak belajar matematika, tetapi tidak mahir matematika maka dianggap belum belajar. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans adalah lingkungan belajar anak, baik internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans, disebut juga hasil belajar. Ada beberapa teori yang mengawali teori behavioristik, antara lain adalah:

a. Teori Thorndike (1874-1949)
Teori Thorndike disebut connectionism. Disebut demikian karena belajar merupakan hubungan antara stimulus dan respon. Stimulus yaitu lingkungan tempat manusia belajar, dan respon adalah perubahan yang terjadi pada manusia tersebut setelah menerima pelajaran. Sebutan lain untuk teori ini adalah trial and error learning.
Dalam teori ini, Thorndike melakukan penelitian yaitu individu dihadapkan pada situasi baru dan membiarkannya melakukan berbagai aktivitas untuk mendapatkan respon dari situasi. Individu mendapatkan berbagai macam reaksi dan menentukan sendiri keberhasilannya dalam menghubungkan antara stimulus dan respon yang tepat. Bisa dikatakan bahwa cara belajar teori ini adalah coba-coba. Ada karakteristik dari teori ini, di antaranya adalah:
a) Ada motivasi yang mendorong aktivitas belajar
b) Ada respon terhadap stimulus
c) Ada eliminasi respon-respon yang gagal
d) Ada kemajuan bagi respon yang berhasil
Dari penelitian itu, Thorndike memukan beberapa hukum, yaitu:
1) Law of readiness: respon akan memuaskan terhadap stimulus apabila ada kesiapan dari individu penerima stimulus
2) Law of exercise: Semakin sering praktik dilakukan, maka hubungan respon terhadap stimulus akan semakin baik. Perlu adanya reward untuk praktik yang dilakukan.
3) Law of effect: jika di antara hubungan respon dan stimulus ada suatu hal yang mengganggu, maka kekuatan hubungan itu akan berkurang.

b. Ivan Pavlov (1849-1936)
Teori Pavlov ini disebut classical conditioning atau stimulus situation. Pavlov melakukan penelitian tentang teorinya terhadap seekor anjing. Dalam percobaan tersebut seekor anjing bila diberi makanan (stimulus), maka secara otonom anjing tersebut akan mengeluarkan air liur (respon). Ada beberapa hukum yang dihasilkan dari penelitian tersebut, antara lain:
1) Law of Respondent Conditioning, yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika ada dua macam stimulus yang diberikan (salah satunya sebagai penguat), maka refleks yang dihasilkan akan menjadi lebih baik.
2) Law of Respondent Extinction, yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika reinforce dihilangkan dan refleks yang sudah diperkuat lewat Respondent conditioning didatangkan lagi, maka kekuatan respon akan melemah.

c. Jhon B. Watson (1878-1958)
Watson adalah orang Amerika yang mengembangkan teori belajar Pavlov. Watson berpendapat bahwa belajar adalah proses terjadinya refleks-refleks bersyarat melalui stimulus pengganti. Ia mengakui adanya perubahan mental dalam individu selama belajar, tetapi ia menganggap hal-hal tersebut tak perlu diperhitungkan. Ia menganggap bahwa ada perubahan-perubahan mental dalam benak siswa ketika proses belajar dan hal itu penting, tapi semua itu tidak dapat menjelaskan seseorang telah belajar atau belum karena tidak dapat diamati perubahan tingkah lakunya secara fisik

d. E. R. Guhtrie (1886-1959)
E. R Guhtrie mengembangkan teori belajar Watson. Ia menyatakan prinsip belajar yang disebut the law of association. Prinsip tersebut berbunyi “Suatu kombinasi stimulus yang telah menyertai suatu gerakan, cenderung akan menimbulkan gerakan itu, apabila kombinasi stimulus itu muncul kembali.” Maksudnya, apabila stimulus yang sama diberikan berulang-ulang, maka respon yang akan terjadi akan sama pula dan akan lebih. Hubungan antara stimulus dan respon bersifat sementara, oleh karena itu dalam pembelajaran, peserta didik harus diberi stimulus sesering mungkin agar hubungan stimulus dan respon bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga menganggap hukuman (punishment) juga memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman tersebut akan mampu mengubah tingkah laku seseorang apabila diberikan pada saat yang tepat.

e. Skinner (Operant Conditioning)
Menurut Dimyati (2013), Skinner berpandangan bahwa belajar adalah suatu perilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila ia tidak belajar maka responnya menurun. Skinner berpendapat, bahwa tujuan psikologi adalah untuk meramal dan mengontrol tingkah laku. Dalam belajar ditemukan adanya hal berikut:
a) Kesempatan terjadinya peristiwa yang menimbulkan respons peserta didik
b) Respons peserta didik
c) Konsekuensi yang bersifat menguatkan respons tersebut (reinforcement), yaitu menguatkan stimulus yang dapat menguatkan konsekuensi tersebut. Sebagai ilustrasi, perilaku respons peserta peserta didik yang baik diberi hadiah. Sebaliknya, perilaku respons yang tidak baik diberi hukuman.
Langkah-langkah pembelajaran berdasarkan teori Operant Conditioning adalah sebagai berikut:
1. Mempelajari keadaan kelas. Guru mencari dan menemukan perilaku siswa yang positif dan negatif. Perilaku positif akan diperkuat, dan perilaku negatif akan dikurangi.
2. Membuat daftar penguat positif. Pada langkah ini guru mencari perilaku yang lebih disukai oleh siswa, perilaku yang dapat menyebabkan hukuman, dan kegiatan luar sekolah yang dapat dijadikan penguat.
3. Memilih dan menentukan urutan tingkah laku yang dipelajari serta jenis penguatnya

Membuat program pembelajaran. Program pembelajaran ini berisi urutan perilaku yang dikehendaki, penguatan, waktu mempelajari perilaku, dan evaluasi. Dalam melaksanakan program pembelajaran, guru mencatat perilaku dan penguat yang berhasil dan tidak berhasil. Ketidakberhasilan tersebut akan menjadi perbaikan untuk perilaku selanjutnya.

Semoga bermanfaat.
Adios ~
 

Tribipi Annisaa Biologi UM Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos