Minggu, 12 Maret 2017

Teori Revolusi Sosio-Kultural dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 09.31 0 komentar
Bismillah
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering: B

Teori Revolusi Sosio-Kultural dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori belajar Revolusi Sosio-Kultural dikembangkan oleh seorang psikolog yaitu Vygotsky. Vygotsky berpendapat bahwa interaksi anak dengan orang dewasa akan berpengaruh pada perkembangan keterampilan anak tersebut. Menurut Vygotsky pula, orang dewasa sensitif terhadap kesiapan anak untuk menghadapi tantangan baru, dan mereka menyusun kegiatan yang tepat untuk membantu anak-anak mengembangkan keterampilan baru.

Dalam teori ini, orang dewasa berperan sebagai mentor dan guru yang mengarahkan anak ke dalam zone of proximal development – istilah Vygotsky untuk rentang keterampilan yang tidak dapat dilakukan anak tanpa bantuan orang dewasa. Contoh orang tua mengajarkan konsep angka sederhana misalnya menghitung dengan menggunakan lidi. Saat anak berpartisipasi pada pengalaman semacam itu sehari-hari dengan orang tua, guru, dan orang lain, mereka secara bertahap belajar praktek, keterampilan, dan nilai kebudayaan.

Ada tiga konsep penting dalam teori sosiogenesis Vygotsky tentang perkembangan kognitif sesuai dengan revolusi sosiokoltural dalam teori belajar dan pembelajaran yaitu
1. Genetic Law of Development
Menurut Vygotsky, setiap kemampuan seseorang akan tumbuh dan berkembang melewati dua tataran, yaitu interpsikologis atau intermental dan intrapsikologis atau intramental. Intermental adalah faktor primer yang merupakan pengaruh dari lingkungan belajar anak. Sedangkan yang dimaksud intramental adalah hasil dari interaksi anak terhadap lingkungan. Dengan kata lain intramental adalah penguasaan anak terhadap proses-proses sosial yang dilakukannya.

2. Zone of Proximal dDvelopment
Zona perkembangan proksimal diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan-kemampuan yang belum matang yang masih berada dalam proses pematangan. Dalam hal ini, anak membutuhkan bantuan orang dewasa untuk dapat mengembangkan kemampuannya. Vygotsky membagi perkembangan proksimal (Zone of Proximal Development) ke dalam dua tingkat:
a) Tingkat perkembangan aktual, yaitu perkembangan yang tampak pada seseorang dalam menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah secara mandiri (intermental)
b) Tingkat perkembangan potensial, yaitu perkembangan yang tampak pada seseorang dalam menyelesaikan tugas atau memecahkan masalah ketika di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika bekerja sama dengan teman sebaya yang kompeten

3. Mediasi
Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses-proses sosial dan psikologis adalah tanda-tanda yang berfungsi sebagai mediator. Tanda-tanda tersebut adalah produk dari lingkungan sosio-kultural tempat seseorang berada. Semua proses psikologis yang khas manusiawi dimediasikan dengan psychological tools atau alat-alat psikologis berupa bahasa, tanda dan lambang, atau semiotika. Dalam kegiatan pembelajaran, anak dibimbing oleh orang dewasa atau oleh teman sebaya yang lebih kompeten untuk memahami alat-alat semiotik ini. Ada dua jenis mediasi, yaitu Mediasi

a) Metakognitif adalah penggunaan alat-alat semiotik yang bertujuan untuk melakukan self-regulation atau regulasi diri, meliputi self-planning,self-monitoring, self-checking, dan self-evaluating.
b) Mediasi kognitif adalah penggunaan alat-alat kognitif untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan pengetahuan tertentu atau subjeck-domain proble.

Aplikasi dalam pembelajaran
Aplikasi teori ini dapat dibagi menjadi pendidikan informal, non-formal, dan formal. Contoh aplikasi dalam pendidikan informal adalah pendidikan keluarga. Ketika di rumah, orang tua mengawasi anak dan mengajarkan hal-hal baru pada anak. Interaksi orang tua dengan anak tersebut akan mengembangkan keterampilan anak.. Aplikasi dalam pendidikan non-formal misalnya pada saat les menari atau keterampilan lainnya (membuat gerabah, membatik). Siswa berinteraksi dengan gurunya yang memiliki keahlian dalam bidang keterampilan tersebut dan akhirmya siswa itu dapat mempelajari keterampilan tersebut dengan baik dan mengembangkannya. Aplikasi dalam pendidikan formal adalah ketika di sekolah ada interaksi antara pendidik dan peserta didik dalam menyampaikan materi pembelajaran.

Semoga bermanfaat :)
Adios ~

Refleksi 9: Teori Sibernetik

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 08.53 0 komentar
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 9

Cybernetik adalah sistem kontrol dan komunikasi. Menurut teori sibernetik, Pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi untuk diolah sehingga menghasilkan keluaran berupa hasil pembelajaran. Menurut PAsk dan Scott, ada dua macam cara berpikir yaitu cara berpikir serialis dan cara berpikir wholist. Cara berpikir serialis sama seperti cara berpikir algoritmik yaitu proses berpikir yang sistematik, tahap demi tahap, dan lurus menuju tujuan tertentu, sedangkan cara berpikir wholist sama seperti cara berpikir heuristik yaitu roses berpikir yang menuju ke beberapa target sekaligus. Cara berpikir ini menuntut penggunaan kemampuan berpikir kreatif, meliputi kelancaran, kelenturan, orisionalitas, dan elaborasi dan kolaborasi. Ada beberapa kondisi yang mempengaruhi proses pengolahan informasi antara lain adalah:
1) Kemampuan alam, kemampuan alami siswa dalam mengolah informasi
2) Motivasi, adanya  dorongan kehendak yang menyebabkan seseorang melakukan suatu perbuatan untuk mencapai tujuan tertentu.
3) Perhatian, bantuan dan perhatian dari orang sekitar baik guru, orang tua maupun teman sebayanya dapat membantu siswa dalam mengolah informasi
4) Presepsi, presepsi awal tentang materi yang diajarkan juga mempengaruhi proses pengolahan informasi
5) Retensi, yaitu materi yang tertinggal dan mampu diingat kembali
6) Transfer, cara penyampaian materi (transfer ilmu) dari pendidik mempengaruhi
Aplikasinya dalam pembelajaran adalah menentukan tujuan pembelajaran, menentukan materi pembelajaran, dan mengkaji sistem informasi yang terkandung dalam materi. Kelebihan teori sibernetik adalah cara berpikir lebih menonjol (proses lebih utama daripada hasil) dan adanya keterarahan kegiatan belajar. Kelemahan teori belajar sibernetik adalah kurang memperhatikan proses belajar.
Adios ~

Rabu, 01 Maret 2017

Teori Sibernetik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 10.00 0 komentar
Bismillah.
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B

Teori Sibernetik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Teori belajar sibernetik adalah teori belajar yang berbasis informasi dan teknologi. Teori belajar ini relatif baru dibandingkan teori-teori belajar lainnya. Proses belajar penting dalam teori sibernetik, tetapi yang lebih penting adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa.Proses belajar memang penting dalam teori sibernetik, namun yang lebih penting lagi adalah sistem informasi yang diproses yang akan dipelajari siswa. Teori ini berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu informasi. Menurut teori sibernetik, belajar adalah pengolahan informasi. Asumsi lain dari teori sibernetik adalah bahwa tidak ada satu proses belajar yang ideal untuk segala situasi dan cocok untuk semua siswa. Sebab cara belajar ditentukan oleh cara penyampaian materi. Suatu materi yang sama mungkin akan dipelajari siswa melalui proses belajar yang berbeda.

Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), kemudian penyimpanan informasi (storage), dan terakhir adalah mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan (retrieval). Menurut teori Gagne, hasil pembelajaran merupakan keluaran dari pemrosesan informasi yang berupa kecakapan manusia (human capabilities) yang terdiri atas:
a) Informasi verbal, merupakan hasil pembelajaran yang berupa informasi yang dinyatakan dalam bentuk verbal baik secara tertulis atau secara lisan.
b) Kecakapan intelektual, merupakan kemampuan individu dalam melakukan interaksi dengan lingkungan dengan menggunakan simbol-simbol. Kecakapan ini sangat diperlukan dalam menghadapi pemecahan masalah.
c) Strategi kognitif, merupakan kemampuan individu untuk mengelola keseluruhan aktivitasnya. Srategi ini mengarah pada kemampuan mengendalikan ingatan dan cara-cara berpikir agar terjadi aktifitas yang efektif.
d) Sikap, merupakan hasil pembelajaran yang berupa kemampuan individu untuk memilih tindakan yang akan dilakukan.
e) Kecakapan motorik, merupakan hasil pembelajaran berupa kemampuan gerakan yang dikontrol oleh otot dan fisik.

Proses Berpikir Algoritmik dan Heuristik dalam Teori Belajar Sibernetik (Menurut Landa)
Salah satu penganut aliran sibernetik adalah Landa. Ia membedakan ada dua macam proses berpikir , yaitu:
1) Algoritmik (konvergen), merupakan proses berpikir yang sistematik, tahap demi tahap, dan lurus menuju tujuan tertentu. Proses berpikir ini deisebut juga cara berpikir konvergen yang tujuannya adalah mencari satu jawaban yang benar. Contoh: prosedur penggunaan suatu alat
2) Heuristik (divergen), merupakan proses berpikir yang menuju ke beberapa target sekaligus. Berpikir divergen sebagai operasi mental menuntut penggunaan kemampuan berpikir kreatif, meliputi kelancaran, kelenturan, orisionalitas, dan elaborasi dan kolaborasi.

Materi pelajaran tertentu akan lebih tepat disajikan dalam urutan yang teratur, linier, sekuensial. Maksudnya materi ini hanya memiliki satu jawaban yang tepat. Di samping itu, materi pelajaran lainnya akan lebih tepat bila disajikan. dalam bentuk ”terbuka” dan memberi kebebasan kepada siswa untuk berimajinasi dan berpikir kreatif.

Aplikasi Teori Belajar Sibernetik dalam Kegiatan Pembelajaran

Dalam pembelajaran sibernetik harus ada umpan balik dari siswa kepada gurunya. Dengan adanya umpan balik tersebut, guru akan tahu apakah materi yang disampaikan kepada siswanya telah dipahami atau belum. Guru juga dapat mengetahui kesulitan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Selain siswa, guru juga harus memberikan feedback berupa nilai dari hasil belajar siswa tersebut. Selanjutnya siswa akan mengintrospeksi diri dan menentukan tindakan yang akan dilakukan apabila hasil yang diperoleh kurang memuaskan
Dalam kaitannya pembelajaran di ruang kelas, Gagne mengemukakan ada sembilan langkah pengajaran yang perlu diperhatikan oleh guru, antara lain:
1. Melakukan tindakan yang menarik minat siswa
2. Memberikan informasi kepada siswa mengenai tujuan pengajaran dan topik-topik yang akan dibahas
3. Merangsang siswa untuk memulai aktivitas pembelajaran
4. Menyampaikan isi pelajaran yang dibahas sesuai dengan topik yang telah ditetapkan.
5. Memberikan bimbingan bagi aktivitas siswa dalam pembelajaran.
6. Memberikan peneguhan kepada perilaku pembelajaran siswa.
7. Memberikan umpan balik terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa
8. Melaksanakan penilaian proses dan hasil belajar
9. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengingat dan menggunakan hasil pembelajaran

Semoga bermanfaat
Adios ~ :)

Refleksi 8: Teori Humanistik, Penerapannya dalam Pembelajaran, dan Self Efficacy

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 09.57 0 komentar
Nama : Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 8

Teori humanistik adalah teori yang menyatakan bahwa dalam setiap diri manusia memiliki kemampuan untuk menerima pelajaran. Manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap. Ada beberapa tokoh yang menyatakan teori ini yaitu Arthur Comb, Abraham Maslow, dan Carl Rogers. Menurut Arthur, guru tidak dapat memaksakan siswa untuk menyukai suatu pelajaran tertentu. Siswa akan tidak menyukai suatu pelajaran apabila dirasa tidak bermanfaat baginya. Siswa akan lebih menyukai pelajaran yang memberikan arti baginya. Menurut Maslow, Di dalam diri individu ada dua hal yaitu usaha positif untuk berkembang dan kekuatan untuk menolak perubahan itu. Dalam diri seseorang terdapat rasa takut untuk bersaing dan rasa takut untuk mengambi kesempatan. Akan tetapi bersamaan dengan peraaan itu, ada juga keinginan untuk maju. Hal yang terjadi selanjutnya adalah bergantung pada cara individu tersebut mengambil tindakan. Menurut pandangan Rogers, manusia pada dasarnya baik dan penuh kepositifan. Teori Rogers diterapkan pada Sistem Bimbingan Konseling di sekolah. Beliau menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka (antara klien dan terapist) dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya.

Teori ini berkaitan dengan self efficacy (Teori Bandura) yang merupakan keyakinan seseorang bahwa dirinya dapat menyelesaikan suatu tugas dalam situasi tertentu. Self efficacy ditumbuhkan dari diri masing-masing individu. Ada anak yang memiliki self efficacy tinggi. Anak yang seperti ini akan mampu mengerjakan tugas yang diberikan guru sesulit apapun tingkat kesulitan soal tersebut. Dia akan terus berusaha karena yakin bahwa tugas tersebut bisa selesai. Akan tetapi anak yang self efficacy nya rendah akan menganggap tugas tersebut sulit dan tidak bisa dikerjakan. Dia akan menyerah bahkan ketika belum mencoba. Akhirnya dia tidak mengerjakan tugas tersebut. Fase yang menentukan self efficacy adalah dimulai dari keluarga. Lingkungan juga mempengaruhi self efficacy. Lingkungan yang responsif akan membuat anak yang memiliki self efficacy tinggi menjadi sukses dan dapat menyelesaikan soal sesuai kemampuannya. Dalam diri kita, perlu ditumbuhkan self efficacy yang tinggi. Kita harus yakin bahwa usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Oleh karena itu, jangan lelah berusaha dan berdoa.

Semangat :D
Adios ~

Minggu, 26 Februari 2017

Teori Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 23.04 0 komentar
Bismillah.
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM: 150341603464
Offering: B

Teori Humanistik dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Dalam pandangan humanistik, manusia bertanggung jawab terhadap hidup dan perbuatannya serta mempunyai kebebasan dan kemampuan untuk mengubah sikap. Teori Humanisme melihat pada sisi perkembangan kepribadian manusia. Pendekatannya melihat kejadian yaitu cara manusia membangun dirinya untuk melakukan hal-hal yang positif. Teori Humanistik menyatakan bahwa teori belajar apapun dapat dimanfaatkan, asal tujuannya untuk memanusiakan manusia yaitu mencapai aktualisasi diri, pemahaman diri, serta realisasi diri dapat tercapai secara optimal. Teori humanisme cocok diterapkan pada materi-materi pembelajaran yang bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena sosial. Dalam teori belajar humanistik, belajar dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar secara perlahan ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya.

Tokoh-tokoh Teori Humanistik

1. Arthur Comb
Perilaku internal mempengaruhi sifat seseorang dan membuatnya berbeda dengan orang lain. Menurut Arthur Combs, belajar terjadi apabila memberikan arti pada pelajar. Seorang guru tidak dapat memaksa muridnya untuk menyukai suatu materi pelajaran. Banyak guru membuat kesalahan dengan berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila materi pelajaran disusun dan disajikan sebagaimana mestinya, meskipun tidak ada arti yang menyatu pada materi pelajaran itu. Sehingga yang penting adalah cara membawa peserta didik untuk memperoleh arti pelajaran itu untuk dirinya dan menghubungkannya dengan kehidupan.

2. Abraham Maslow
Teori Maslow didasarkan pada asumsi bahwa di dalam diri individu ada dua hal yaitu usaha positif untuk berkembang dan kekuatan untuk menolak perubahan itu. Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berkembang, takut mengambil kesempatan, takut membahayakan sesuatu yang telah dimilikinya. Akan tetapi di sisi lain seseorang juga memiliki dorongan untuk lebih maju ke arah yang lebih maju. Ke arah berfungsinya segala kemampuan dan ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar.

3. Carl Ransom Rogers
Carl Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang menekankan perlunya sikap saling menghargai dan tanpa prasangka dalam membantu individu mengatasi masalah-masalah kehidupannya. Teori Rogers disebut humanis karena teori ini percaya bahwa setiap individu adalah positif, serta menolak teori Freud dan behaviorisme. Menurut pandangan Rogers, manusia pada dasarnya baik dan penuh kepositifan. Menurut Carl Rogers ada beberapa hal yang mempengaruhi Self, yaitu :
üKesadaran
üKebutuhan Pemeliharaan
üPeningkatan diri
üPenghargaan positif (positive regard)
üPenghargaan diri yang positif (positive self-regard)

Aplikasi terhadap Pembelajaran
Peran guru dalam pembelajaran menjadi fasilitator, memberikan motivasi, dan menumbuhkan kesadaran makna belajar bagi kehidupan pada para siswa. Peran siswa adalahaku utama yang memaknai proses belajarnya. Siswa diharapkan menjadi manusia yang bebas, berani, tidak terikat pendapat orang lain, bertanggug jawab dalam mengatur dirinya tanpa melanggar hak orang lain, aturan, norma dan etika yang berlaku. Teori humanistik cocok digunakan untuk materi pembelajaran yang bersifat membentuk pribadi, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis kejadian sosial

Self Efficacy
Menurut Albert Bandura,  Self Efficacy adalah keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Seseorang dengan efikasi diri tinggi percaya bahwa mereka mampu melakukan sesuatu untuk mengubah kejadian-kejadian di sekitarnya, sedangkan seseorang dengan efikasi diri rendah menganggap dirinya pada dasarnya tidak mampu mengerjakan segala sesuatu yang ada disekitarnya.

Semoga bermanfaat
Adios ~ :)

Refleksi 7: REVIEW MATERI BELAJAR

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 22.55 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering: B
Mata Kuliah: Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 7

Pada perkuliahan hari ini, kegiatan kami adalah review mengenai tiga teori belajar yang telah dipelajari. Cara untuk menyimpulkan pembelajaran yang baik adalah dengan menambahkan pendalaman materi, meluruskan jawaban pertanyaan selama diskusi yang berlangsung saat pembelajaran, mengambil hal-hal penting terkait materi yang diajarkan kemudian dikaitkan dengan kejadian yang akan terjadi di masa depan. Asimilasi terdapat pada teori belajar kognitif. Asimilasi adalah menggabungkan sesuatu yang lama dengan hal yang baru, sehingga menghasilkan sesuatu yang baru. Pada orang dewasa sulit dalam melakukan asimilasi karena orang dewasa lebih mempercayai hal yang pernah dialaminya dan sulit menerima sesuatu yang baru.

Lalu, kami membahas tentang perbedaan hadiah dan penghargaan. Hadiah adalah hal yang diberikan secara cuma-cuma, tidak harus dari usaha dan tidak harus berkaitan dengan pembelajaran. Sedangkan penghargaan adalah sesuatu yang diberikan sebagai hasil dari proses belajar. Perbedaan pandangan Piaget dan Vigotsky adalah bahwa Vigotsky lebih mengedepankan komunikasi atau ilmu sosial. Piaget menyatakan bahwa perkembangan mental sejalan dengan perkembangan fisik. Belajar secara kooperatif adalah penerapan teori Piaget. Lalu dibahas sedikit tentang self efficacy yang merupakan keyakinan individu mengenai kemampuan dirinya dalam melakukan tugas atau tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu.

Adios ~

Refleksi 6: Teori Konstruktivisme dan Penerapannya dalam Pembelajaran

Diposkan oleh Annisa Ahmada di 22.29 0 komentar
Nama: Annisaa Ahmada Atusta
NIM : 150341603464
Offering : B
Mata Kuliah : Belajar dan Pembelajaran

Refleksi 6

Teori konstruktivisme lebih menekankan pada cara peserta didik membangun ilmu pengetahuannya. Ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak didapatkan secara instan, tetapi melalui tahapan-tahapan. Beberapa masalah diberikan kepada para siswa, kemudian siswa tersebut akan berusaha memecahkan masalah tersebut. Dari situlah pengetahuan didapat secara perlahan. Setelah pengetahuan tersebut terkumpul, siswa akan mulai berpikir dan menyusun ilmu pengetahuannya menjadi sesuatu yang kompleks. Semua pengetahuan yang diperoleh manusia tidak secara serta merta langsung didapatkan, tetapi secara bertahap. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat.

Dengan menerapkan teori belajar seperti ini, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran akan semakin baik dan lebih lama mengingat. Apapun yang dipelajari melalui pengalaman akan diingat lebih lama. Begitu pula dengan penerapan teori ini. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata. Dari ketiga teori belajar yang telah saya pelajari, saya lebih menyukai teori belajar ini karena tidak membatasi inovasi dan kreativitas peserta didik untuk mengumpulkan pengetahuan baru.

Setelah diskusi tentang teori Kontruktivisme, ditengah presentasi, kami mengerjakan ujian pre-test yang seharusnya dikerjakan pada awal masuk perkuliahan. Soal tersebut berisi tentang permasalahan dalam Belajar dan pembelajaran dari materi ang telah dipelajari, sampai yang belum sama sekali (contih tentang self efficacy). saya mengerjakan ujian itu sebisa saya, karena ujian ini bertujuan untuk mengukur perkembangan belajar dari awal semester hingga akhir semester. Model tes seperti ini bisa saya terapkan juga jika saya menjadi guru nanti. Soalnya berbentuk multiple choice, tetapi isinya berbobot yaitu lebih banyak berupa menganalisis suatu masalah.

Adios ~
 

Tribipi Annisaa Biologi UM Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos